Jumat, 01 Juni 2012

Seorang Sarjana dan Hantu


Chen adalah pemuda yang cerdas. Ia seorang sarjana tamatan universitas terkemuka di Cina, yang kepandaiannya tersohor sampai kemana-mana. Setelah tamat belajar, Chen memutuskan untuk mengembara, berkeliling negeri Cina, demi mencari pengalaman sekaligus mengajarkan ilmunya kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan. Telah banyak desa dan kota-kota yang terbantu olehnya dalam berbagai permasalan pelik.

Meskipun demikian, ia selalu menyembunyikan sosoknya sebagai pemuda biasa yang berpakaian sederhana. Walau namanya terkenal ke penjuru negeri, orang-orang tidaklah mengenal wajahnya kecuali yang sudah pernah bertemu.

Setelah sangat jauh mengembara, ia akhirnya singgah disebuah kampung yang ramai. Orang-orang di kampung itu ramah dan sebagian besar hidup berdagang. Selain terkenal dengan keramaiannya setiap musim panas, desa itu juga terkenal akan sebuah tempat penginapan.

Sebenarnya penginapan ini, sama seperti penginapan-penginapan lain pada umumnya. Memberikan kamar-kamar yang bersih, menyajikan teh untuk tamu-tamunya, kue-kue kering yang panas, tempat pemandian air panas, dan lain-lain sebagainya.

Namun, ada satu kamar yang sengaja dibiarkan kosong walau terus dirawat bersih. Dan, kamar inilah yang membuat penginapan ini terkenal. Dulunya, dikamar ini ada seorang wanita yang mati bunuh diri dengan menggantung dirinya sendiri mengenakan seutas tali. Tidak tahu mengapa ia bunuh diri seperti itu, namun, sejak kematiannya di kamar ini, di kamar tersebut sering muncul penampakan hantu yang menakut-nakuti orang yang sedang tidur.

Sosok hantunya adalah seorang wanita, yang wajahnya mirip dengan wanita yang tewas bunuh diri itu. pertama, akan muncul hawa dingin yang seolah-olah membekukan tengkuk. Lalu akan muncul asap putih yang bergulung-gulung dan menggumpal, kemudian akan membentuk sesosok wanita berbaju putih, dengan rambut awut-awutan menutupi sebagian wajahnya, dan wajahnya pucat pasi seperti mayat menakutkan.

Setelah itu, ia akan berjalan mendekati orang yang tidak beruntung tidur di kamar tersebut. Mencopot kepalanya, dan kepalanya akan terbang mengitari si korban. Telah banyak orang yang ditakut-takutinya. Dan telah banyak pula pemberani yang membuktikan kebenaran adanya hantu tersebut, dibuat pingsan karna sangat ketakutan.

Si hantu tidak hanya mencopot kepalanya, namun juga memamerkan kuku-kuku tangan dan taringnya yang tajam. Lidahnya juga bisa menjulur panjang. Suaranya melengking menyeramkan. Maka dari itu, meski tetap diurus, kamar tersebut tidak pernah ditempati lagi oleh para penginap.

Chen mengunjungi tempat ini, dan berniat tinggal disana untuk beberapa hari. Ia sudah mendengar tentang penginapan serta hantu yang menyeramkan itu. ia ingin membuktikan sendiri, apa benar ada hantu.

“Pak, saya ingin menginap di tempat ini.” Kata  Chen ramah pada pemilik penginapan yang sudah lumayan tua ini.

Pak Liu, pemilik penginapan, pun menjawab dengan suara yang lebih ramah. “Silahkan, kami masih memiliki banyak kamar kosong. Anda mau pilih yang mana, biar kami antarkan.”

Chen pun melihat-lihat sebentar, dan kemudian memutuskan. “Hmm.. saya ingin kamar yang di sebelah ini saja.” Tunjukkan pada sebuah pintu.

Pak Liu pun kaget, dan berkata ragu-ragu. “Nak, apa anda.. yakin?”

Chen pun bertanya balik. “Memangnya kenapa dengan kamar itu pak ?”

“Kamar itu sudah lama tidak terpakai, dan lagi pula di sana tempatnya kurang nyaman. Saya rasa kamu tahu maksud saya apa.” Pak Liu menjelaskan dengan nada kurang enak dan merasa bersalah.

“Oh.. tidak mengapa Pak. Saya mengerti maksud anda, ini tentang hantu itu, kan ?” Chen menjawab dengan nada riang untuk mencairkan suasana. Tetapi wajah Pak Liu, pemilik penginapan masih agak lain.

“Sudah lah, mari kita lihat saja. Jika saya merasa kurang nyaman, Bapak boleh mencarikan kamar lain untuk saya.” Lanjutnya kemudian.

Pak Liu pun mengangguk, dan mereka bersama-sama menuju kamar tersebut. Setelah melihat-lihat kamar itu, Chen merasa nyaman. Kamarnya cukup sejuk, dan pemandangan di luar jendela menghadap sebuah gunung, dan taman bunga. Ia memutuskan untuk tetap dikamar ini saja.

“Saya tidak tahu maksud kamu apa, tetapi kalau hanya untuk uji nyali, sebaiknya jangan. Pria yang tampangnya lebih sangar dan tubuhnya yang lebih besar dari mu, sudah banyak yang ketakutan disini.” Pak Liu kemudian menjelaskan.

Chen mengerti kekhawatiran Pak Liu, tetapi ia kemudian berkata; “Setidaknya sampai sekarang, hantu itu belum pernah membunuh orang, kan ?”

Pak Liu paham dan tidak bisa memaksa. Ia berpesan, jika Chen butuh sesuatu, ia bisa dipanggil kapan saja. Setelah mengucapkan terima kasih, dan Pak Liu keluar dari kamar, Chen membereskan barang bawaannya dan lekas beristirahat.

Malam itu, rembulan penuh bersinar terang. Chen sengaja membuka lebar-lebar jendela kamarnya agar angin bisa masuk kedalam. Kamar ini benar-benar nyaman dan sejuk. Ia bersantai sambil membaca sebuah buku.

Menjelang tengah malam, matanya mulai mengantuk. Namun, saat hendak memadamkan penerangan, ia merasakan ada yang lain. Udara tiba-tiba jadi lebih dingin. Tengkuknya seperti beku. Dan perlahan-lahan, asap tipis memasuki kamarnya termpat ia berdiam tadi. Chen tahu ini tanda-tanda bahwa hantu itu akan muncul, ia pun meningkatkan kewaspadaannya, dan memasang tajam pandangan matanya.

Tak lama kemudian, asap tadi menggumpal dan membentuk sesosok tubuh. Mirip perempuan,  berbaju putih, dan berambut awut-awutan. “Ini dia yang ku tunggu-tunggu!” gumam Chen dalam hati sambil tersenyum.

Dan, benar saja! Sesosok hantu yang sudah maujud itu memang menyeramkan. Chen sempat kaget, namun ia berhasil mengendalikan dirinya. Si hantu pun lekas melengking, mengeluarkan suara yang menyeramkan.

“Hei, setan bodoh! Kau kira Cuma suaramu saja yang menyeramkan!? Aku juga bisa melengking, bahkan lengkingan monyet di hutan sana lebih seram!” Bentak Chen tiba-tiba.

Si hantu seakan terperanjat dan kaget. Baru kali ini ada yang berani membentaknya seperti itu. ia pun meningkatkan serangan menakut-nakutinya. Ia memamerkan taring dan kuku tangannya yang panjang dan tajam.

Chen menghardik lagi; “Apa nya yang menakutkan dari kuku-kuku tangan dan gigi taring mu? Sepanjang dan setajam apapun, kuku tetaplah kuku! Harimau dan beruang juga punya yang seperti itu, tetapi mereka bisa di tangkap dan dikuliti! Kamu mau seperti itu juga!?”

Si hantu kembali terperanjat. Di julurkannya lidah yang panjang itu mendekati Chen. Tidak sampai menyentuh hanya memainkan lidahnya saja.

“Kau ini benar-benar memalukan. Anak-anak kecil di desa ini juga suka menjulurkan lidahnya sewaktu bermain. Kau ini kulihat sudah dewasa, tetapi malah bertingkah seperti anak-anak dengan menjulurkan lidah seperti itu. apanya yang seram!? Kau julurkan sepanjang apapun, lidah mu tetaplah lidah! Apa kau mau lidah mu ku gunting? Menjulurkan lidah itu tabiat anak kurang ajar, dan seperti anjing, tahu!” Chen menghardik lebih keras sambil mengacungkan gunting.

Si hantu mulai bingung. Di tariknya lidahnya agar pendek kembali. Kemudian ia menggerai rambutnya yang kusut itu, dan mengacak-acaknya lebih parah dan mengibas-ngibaskannya. Tampilannya sungguh menyeramkan. Tapi Chen tidak takut.

“Nah, sekarang seperti orang gila! Sudah berapa lama kau tidak mencuci rambut? Pasti bau dan banyak kutunya, ya? Penampilan yang begitu apa nya yang bikin seram!? Orang gila di jalanan pun bisa lebih parah dari pada ini! Kau gerai sepanjang apapun, rambut tetaplah rambut!”

Dikata-katai demikian, si Hantu mulai putus asa. Ia mengeluarkan cara terakhir yang belum pernah gagal sebelumnya, yakni mencopot kepalanya, dan kepala tersebut terbang mengitari korban. Sesaat, kepalanya sudah copot dan terbang mengitari Chen. Chen kemudian menggeser tempat duduknya, mengambil tongkat pemukul yang terbuat dari rotan dari dalam tas nya.

“Kau ini sungguh memalukan. Kau tanggalkan kepala seperti itu pun, itu tetaplah kepala. Aku juga punya! Apanya yang menakutkan?” Sahutnya lantang.

Tiba-tiba Chen, mengayunkan pemukul rotan tersebut. Memburu kepala hantu yang terbang mengitarinya. Di hajarnya berkali-kali kepala hantu tersebut. Seperti menghajar nyamuk-nyamuk nakal. Tak ada pilihan lain, akhirnya kepala si hantu kembali ke tubuhnya.

“Sekarang, kau masih berani? Kuku mu, tetaplah kuku. Taringmu tetaplah taring. Kepalamu, tetaplah kepala. Lidahmu tetaplah lidah. Mana bagian yang menakutkannya? Jika kau berani kembali ke sini dan mengganggu orang-orang lagi, aku akan menghajarmu seperti tadi! Bahkan lebih keras!” Chen meninggikan suaranya.

Kepala si hantu yang sudah terpaut kembali dengan tubuhnya pun, kemudian perlahan menjadi asap. Lalu menipis, dan lenyap dari kamar. Chen mengucap syukur. Ia tak menyangka akan berjalan semudah ini. Sebentar, ia tertawa kecil mengingat peristiwa dan apa yang ia lakukan tadi pada si hantu.

Setelah tafakur sejenak, Chen pun merebahkan dirinya untuk beristirahat. Ia tak sabar melihat reaksi Pak Liu. Dan malam itu Chen tidur nyenyak sekali.

Esok paginya, Pak Liu terkejut melihat Chen baik-baik saja. Chen menangkap ke keterkejutan itu. namun ia menahan diri untuk tidak menceritakan peristiwa tadi malam. Ia beberapa malam lagi masih ingin mencoba tidur di sana. Apakah si hantu masih berani muncul atau tidak.

Pada malam kedua, ketiga, dan seterusnya, ternyata si hantu tidak muncul sama sekali. Chen puas, telah berhasil mengusir si hantu nakal. Dan genaplah ia seminggu berada di sana. Pak Liu pun juga tak tahan ingin bertanya.

“Sudah seminggu anda di sini, dan tidur di kamar itu. setiap paginya, saya lihat anda baik-baik saja. Padahal hanya satu malam saja, banyak orang yang pucat pasi dan hampir jadi gila jika tidur di kamar itu sebelumnya. Apa sebenarnya yang terjadi?” Tanyanya.

Chen pun menjelaskan peristiwa yang ia alami seminggu lalu. Ceritanya benar-benar detail. Pak Liu kagum atas keberanian Chen.

“Ini bukan masalah berani atau tidak, Pak Liu. Ini Cuma mengenai bagaimana kita mengendalikan diri dan memandang sebuah keburukan dengan pandangan sederhana tanpa tercampur emosi. Anda bisa saja seperti saya. Namun, anda cenderung memandang terror si hantu dengan sudut pandang yang menakutkan.” Chen merendah.

Sejak saat itu, kamar yang pernah ditakuti karena hantunya tersebut, dibuka kembali. Pak Liu membuktikan sendiri dengan tidur beberapa malam di kamar tersebut. Dan tidak pernah ada kejadian si hantu datang, apalagi mencopot kepalanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar