:: 10 TIM TERBAIK 2011-2012 EROPA ::
1:: Juventus FC :: [9.8]
Conte
pulang, dan mempersembahkan scudetto pertama untuk Juventus pasca kembali dari
Serie B musim 2007/2008. Mereka melakukan pergerakan jitu di jeda kompetisi
pada jadwal transfer awal musim. Namun yang terbaik adalah Andrea Pirlo. Datang
dari AC Milan dengan status free transfer, ia menghidupkan separuh kehidupan lini
tengah Juve yang mati setengah, yang kemudian menjadi lini tengah terkuat di
Serie A.
Selain itu,
musim ini focus mereka hanya berlaga di kompetisi local. Musim sebelumnya hanya
berada di peringkat 7, yang artinya tidak ada jatah untuk masuk kompetisi Eropa
manapun di musim 2011/2012. Berkurangnya beban seperti ini, membantu kebugaran
skuad si Nyonya Tua terlihat lebih baik.
Mereka
menjadi tim yang tidak terkalahkan sepanjang musim dari 38 pertandingan di
Serie A. berselisih 4 angka dari AC Milan di peringkat dua. Dan sepanjang laga
yang mereka lakoni dari pertengahan tahun 2011 hingga pertengahan 2012, Juventus
hanya merasakan satu kali kekalahan; dari Napoli di final Copa Italia.
Lini tengah
mereka yang tertajam. Ini menjadi nilai baik, sekaligus nila jelek untuk lini
depan mereka yang kalah produktif dibanding lini kedua. Arturo Vidal,
Marchisio, dan Pirlo adalah komponen penting di musim ini. Juventus kembali ke
trek, dan melakukan perubahan luar biasa dari musim-musim sebelumnya.
Jujur saja,
di musim-musim sebelumnya, mereka terkesan tanggung di bursa transfer seperti Liverpool
dan Arsenal. Namun, dimusim ini pergerakannya irit. Dan langkah yang sangat
tepat saat ‘merebut’ Pirlo.
-------------------------------------------------------------
2:: Borussia Dortmund :: [9.7]
Jurgen
Klopp membawa era baru. Sepakbola Jerman selama ini dikenal dengan iklim
kompetisi yang ketat dan kualitas tim yang merata antar kontestan. Sejak 10
tahun terakhir, ada Bremen, Munchen, Shalcke 04, VfB Stuttgart, Wolfsburg, dan
Dortmund yang keluar sebagai juara Bundes Liga. Dan hanya Bayern Munchen yang
mampu juara dua tahun kompetisi beruntun. Sebelum akhirnya dipatahkan Dortmund.
Pada musim
ini, Dortmund mempertahankan apa yang sudah mereka raih di musim sebelumnya.
Kepergian Nuri Sahin, dan performa yang jelek di LC membuat amatan banyak pihak
yakin bahwa era Dortmund selesai seperti Wolfsburg pada musim 2009/2010.
Namun,
rekor baru tercipta. Mereka menjadi tim yang mengoleksi poin terbanyak di
Bundes Liga I sepanjang masa dengan 81 poin. Selain itu, mereka mengecap double
winner pertama sepanjang klub itu berdiri.
Pada bulan
Mei, mereka mengalahkan Bayern Munchen di final DFB Pokal, dengan skor telak
5-2. Ini menjadi langkah baru untuk era sepakbola Jerman dalam 10 tahun ke
depan. Munchen selama ini lebih sering terlihat di headline berita-berita akhir
musim sebagai peraih double winner.
Duo
Polandia; Jakub dan Lukasz, ditambah seorang Jepang, Shinji Kagawa, beserta
Lukas Barios, lebih dari sekedar unit mematikan. Sokongan lini tengah dan belakang
yang bertanggung jawab, membuat pergerakan maju-mundur, patah-menyambung mereka
stabil. Jika seandainya harus gelisah, adalah kepergian Shinji Kagawa yang
diakhir musim menyeberang ke tanah Inggris, merapat ke Manchester United. Tapi
tenang saja, Nuri Sahin yang dilepas ke Madrid pada awal musim 2011/2012
tidaklah meruntuhkan kaki-kaki pemain yang lain. Demikian juga seharusnya
dengan respon kepergian Kagawa.
-------------------------------------------------------------
3:: Real Madrid :: [9.6]
Apa yang
dilakukan oleh Mou bersama Real Madrid dimusim ini sudah bisa diperkirakan
sejak musim lalu. Pencapaian mereka luar biasa. Meraih 100 poin, terbanyak di
liga sepanjang masa, sekaligus mematahkan rekor Barcelona di musim-musim
sebelumnya, 99 poin. Gelontoran gol mereka juga mengagumkan. Terutama trisula
maut Ronaldo-Benzema-Di Maria. Tetapi, cacatnya masih terlihat di lini belakang
yang bermain terlalu keras walau masih bisa ditolerir.
Pada musim
lalu, Madrid juga berada di urutan ketiga dari daftar yang saya buat. Sejujurnya
saya kecewa dengan apa yang mereka capai dari segi trofi dan kompetisi. Dengan
skuad yang dalam dan berkualitas terbaik dunia di setiap lini, seharusnya
mereka bisa meraih Liga Champions.
Kesenjangan
kualitas yang terjadi antara Madrid dan competitor lain di La Liga sangatlah
jauh. Kemenangan yang mereka raih itu wajar dan tidaklah luar biasa. Termasuk
poin dan jumlah gol tersebut. Ini ibarat pemain universitas melawan pemain
junior U-11.
Namun nilai
penting terlihat dari progress mereka setelah melewatkan musim perdana sejak
ditangani Mourinho. Di Maria, Ronaldo, Benzema, Pepe, Marcelo, Casillas, Ozil,
dan Alonso menjadi sangat matang. Perkembangannya dalam satu musim mencapai 4x
lipat dari potensi semula. Jika Barcelona disebut segerombolan alien, maka
Madrid dimusim depan bisa disebut terminator-nya sepakbola yang tanpa cela.
-------------------------------------------------------------
4:: FC Barcelona :: [8.8]
Titik
tolaknya adalah jenuh. Kualitas fisik mereka yang terkuras sepanjang 3 musim
mulai terlihat. Lebih dari separuh skuad adalah pemain yang merasakan sixtuple
pada 3 musim kebelakang. Dan dalam satu musim dari 2008/2009, hingga 2011/2012
ini, mereka selalu meraih minimal 1 trofi.
Terutama
pemain inti seperti Valdes, Pique, Puyol, Alves, Abidal, Busquet, Xavi,
Iniesta, Messi, yang sejak 4 tahun lalu tak berubah, telah meraih semua gelar
di ajang prestis local dan continental, bahkan dunia. Dilevel timnas sendiri
Messi hanya belum meraih Copa America dan World Cup. Walau telah meraih
Olimpiade 2004 dan 2008, lalu World Cup junior, sendirian, hanya Messi yang
masih belum terlihat jenuh. Sedangkan skuad Spanyol, telah meraih EURO dan WC
secara beruntun.
Ini yang
harus ditekan untuk menghadapi musim mendatang. Musim ini penampilan mereka
turun 30%. Lini belakang mulai goyah seiring termakan usianya Puyol sebagai
komandan. Iniesta juga harus secepatnya nyetel dengan pendatang baru, karena
Xavi juga mulai rapuh secara fisik dan umur.
Namun,
penurunan performa ini tidaklah seburuk itu. musim ini, Pep, yang pada akhir
musim memilih mundur sebagai pelatih, lebih banyak memainkan muda-muda seperti
Cuenca, Tello, Dos Santos, Thiago. Kemudian juga memainkan pemain cadangan dan
rotasi berulang-ulang seperti yang terjadi pada Fabregas, Adriano, Mascherano, Alexis,
dan Pedro. Ada kesan ia ingin mematangkan pemain dan membuat semua mesin panas.
Sehingga, pada musim baru mendatang, semua pemain sudah siap tempur meraih
apapun terutama trofi Liga. Termasuk menghancurkan Madrid sebelum menjadi
sekumpulan terminator.
-------------------------------------------------------------
5:: Montpellier :: [8.3]
Rene Girard
membawa era baru, seperti yang dilakukan oleh Jurgen Klopp. Di Perancis, ia
membuka kesuksesan yang tak terkira untuk tim seperti Montpellier. Baru saja promosi
ke Ligue 1 di musim 2008/2009, 3 tahun kemudian jadi juara.
Kolektifitas
mereka mengagumkan. Namun, yang paling penting itu adalah kedalaman skuad. Mereka
mengabaikan semua tekanan. Walau, tentu saja; tekanan akan muncul apabila
pencapaian kita melebihi target. Muncul ketakutan akan gagalnya mempertahankan
keunggulan yang sudah ada.
Tapi, PSG
yang sejak awal musim sudah garang dan panas, ternyata gagal. Lille, Bordeaux,
Lyon, dan Marseille apalagi. Satu-satunya alasan yang membuat mereka bisa
meraih puncak tangga kompetisi ini adalah; ini mungkin akan terjadi sekali
seumur hidup, dan mereka tidak ingin melewatkannya. Ya, kekuatan perjuangan
untuk hanya merasakan sekali saja.
-------------------------------------------------------------
6:: Manchester City :: [7.9]
Di semester
pertama, mereka mengangkangi MU sebagai penguasa Manchester dengan skor 6-1 di
Old Trafford. Berselisih 5 poin dan bermain stabil. Namun memasuki semester
kedua, mereka mulai goyah. Sindrom yang biasa menyerang tim unggulan baru.
Di LC,
mereka kalah bersaing dengan Napoli dan Munchen. Sedang di FA mereka tumbang
dari Liverpool. Abaikan Carling Cup, satu-satunya yang bergengsi untuk diraih adalah
Barclays Premier League. Kegagalan mereka di 3 ajang tersebut membantu mereka
focus di partai Liga.
Sampai pada
akhirnya tertinggal dari Manchester United, dan terseok-seok dipartai
selanjutnya. Namun, menjelang tutup musim, saat pertandingan tinggal 4 partai,
mereka mengejar dan menghidupkan asa lagi. Untuk juara tentunya.
Pada partai
pamungkas, mereka menang dramatis dari QPR. Pada partai lain, MU juga sudah
unggul 2-1 atas lawannya, dan telah siap memastikan gelar juara. Memasuki
injury time, mereka masih tertinggal 1-2. Namun keajaiban terjadi saat Aguero
dan Dzeko membobol gawang QPR lalu membawa keunggulan 3-2.
Mereka
telah meraih prestasi luar biasa. Gelar BPL yang sudah sekian puluh tahun
dirindu, akhirnya sampai juga ke tuan tanah. Tim ini sudah mulai terbentuk.
Jika bertahan 2-3 musim ke depan, dan berpenampilan stabil, bukan tidak mungkin
mereka juara Eropa.
Secara
keseluruhan penampilan mereka bagus, namun masih harus mempertahankan
stabilitas dalam setahun.
-------------------------------------------------------------
7:: Atletico Madrid :: [7.2]
Ini
debutnya Diego Simone. Falcao, lalu Diego Ribas. Mereka lebih terkesan praktis
daripada taktis. Aliran bolanya khas tanah spanyol dan latin. Ekspektasi mereka
melebihi apa yang sudah diperkirakan orang. Seperti saat menjadi kampiun 2010
di Europa League, pencapaian mereka sangat diluar target. Langkah mencengangkan
justru diayunkan pada kompetisi Eropa kelas dua. Secara keseluruhan, Atleti
banyak memainkan pola local. Hanya saja, jika dikompetisi domestic, pola itu
justru dibumi hanguskan kontestan lainnya.
Diego
Simone yang memulai debutnya tahun ini, berhasil membuka catatan baik untuk
karir kepelatihannya. Ia menerapkan pola yang sama saat masih aktif sebagai
pemain. Tekanan untuk membatalkan lawan agar tidak melanjutkan serangannya.
Otomatis lini tengah mereka luar biasa sibuk. Dan khusus untuk pemain ofensif,
mereka tidak kerepotan karena tidak harus membantu pertahanan. Oleh karena itu
Falcao dan Diego punya keleluasaan yang tidak terbatas dan menjadi tumpuan tim.
Walau sebenarnya Diego masih angin-anginan.
-------------------------------------------------------------
8:: Bayern Munchen :: [7.1]
saya tidak
tahu apa yang salah dengan mereka. mendapatkan kesempatan tampil di 2 final
kompetisi sistem gugur. Ditambah kompetisi Bundesliga, mereka berpeluang sangat
besar meraih treble winner dimusim
2011/2012.
Namun, satu
persatu peluang lepas dan lesap. Pertama di putaran liga; mereka harus menyerah
saat kompetisi masih menyisakan 2 laga, karena selisih poin yang cukup jauh.
Kemudian memasuki bulan Mei, FC Hollywood menyerah dari Dortmund di final DFB
Pokal dengan skor telak 2-5.
Namun, saat
itu mereka sukses menembus final Liga Champions Eropa setelah menyingkirkan Real
Madrid di semifinal lewat adu pinalti. Hingga akhirnya, ajang ini menjadi pelampiasan
kegagalan mereka di 2 kesempatan sebelumnya.
Yang paling
menjengkelkan adalah, dua kali digagalkan oleh Dortmund. Sehingga final Liga
Champions adalah peluang untuk mengembalikan harga diri. Chelsea sendiri juga
telah menyingkirkan favorit lain, Barcelona di semifinal. Jadi, pertemuan
mereka di final, bisa dibilang seru walau banyak yang meragukan The Blues bisa menerima permainan
Munchen.
Namun
ternyata, Chelsea lebih beruntung daripada Munchen, dan Munchen melengkapi 2
kesialan mereka, menjadi 3. Kalah adu pinalti, walau sukses melewati babak yang
sama di semifinal.
Mengenai
kegagalan di final LC, saya sudah melihat bibit itu dari semifinal saat mereka
bertemu Madrid, karena difinal harus kehilangan beberapa pemain inti akibat
akumulasi kartu. Sedang di Liga dan DFB Pokal, saya hanya bisa menyalahkan
konsistensi dan suasana psikis mereka. komposisi tim tidak kekurangan apapun. Setiap
lini stabil, bahkan beberapa pemain sangat menonjol.
Hingga
akhirnya, sepakbola lebih dari sekedar kemampuan teknis. Melainkan situasi
psikis dan keberuntungan.
-------------------------------------------------------------
9:: Atletico Bilbao :: [7.08]
Ini
seharusnya jadi yang luar biasa. Namun secara personal, Marcelo Bielsa lah yang
patut dibilang luar biasa. Walau kita tidak bisa mengabaikan peran Llorente,
Iker Muniain, dan Gabilondo. Namun, pencapaian mereka menembus 2 final
kompetisi; Europa League dan Copa del Rey, telah mengibarkan Ikkurina sepanjang
jalan di Bilbao tanda sukacita.
Namun,
lawan yang harus mereka hadapi di dua final itu, levelnya jauh berada diatas
mereka. di kompetisi Eropa, mereka harus melawan Atletico Madrid. Dan seperti
yang sudah diperkirakan, mereka dihantam 0 – 3. Sedang difinal Copa del Rey,
Barcelona juga terlalu superior dengan menggasak mereka 0 – 3.
Secara
keseluruhan, pencapaian dengan masuk 2 final kompetisi ini telah membuka era
baru bagi Bilbao. Kolektifitas mereka komplit, dan padu. Jadi, untuk musim
depan, peringkat di La Liga seharusnya jauh lebih baik jika tak ada pemain
utama yang dijual.
-------------------------------------------------------------
10:: Chelsea :: [5.1]
Jujur saja,
Chelsea tidak seharusnya berada didaftar ini. Apa yang mereka dapatkan tidak
lebih dari sekedar menciptakan peluang, lalu memanfaatkan keberuntungan. Bisa
dibilang mereka terlalu beruntung. Tetapi, berbeda saat meraih FA Cup, mereka
tidak lagi memanfaatkan keberuntungan. Justru bermain kesetanan.
Yah,
Liverpool yang beberapa hari kemudian membalas kekalahan di final FA Cup dengan
kemenangan telak 4-1 dipartai Liga, tetaplah tidak mengubah pencapaian Chelsea.
Kemenangan Liverpool dengan skor mencolok di partai liga, tidaklah merebut
trofi FA dari Chelsea. Jadi santai saja.
AVB yang
didatangkan diawal musim; setelah membawa Porto treble winner. Chelsea malah acakadut dan berantakan. Pola mereka
tak beraturan. Hanya sekedar main, karena pemain lebih sering berada disituasi
dan posisi yang tidak menjadi spesialisasi mereka. mereka garang, tapi kadang
melempem.
Abramovich
akhirnya habis kesabaran, setelah melewatkan bulan kasih sayang, Februari,
dengan tidak meraih kemenangan sedikitpun. Ia mendepak Villas Boas, lalu menaikkan
De Matteo sebagai penggantinya.
De Matteo
tahu ia harus memperbaiki apa-apa yang sedang salah. Jadi, permainan aman dan
jitu adalah solusinya. Istilah baru pun mulai muncul; memarkirkan bus. Terutama
saat menjamu Barcelona di semifinal LC.
Chelsea condong
bertahan dan mengincar serangan balik. Tetapi percayalah, hasilnya memuaskan.
Drogba kembali buas, Torres menemukan momen kebangkitannya.
Seperti
koin yang memiliki dua sisi berbeda, menjengkelkan dan mengagumkan; ternyata
mereka meraih double winner, lho!