Selasa, 26 Juni 2012

Kisah Dua Muadzin Nabi SAW :: Bilal bin Rabbah Al Habsyi.


Kisah Dua Muadzin Nabi SAW :: Bilal bin Rabbah Al Habsyi.

Demikianlah Bilal bin Rabbah, muadzin Nabi SAW, dengan kesempurnaan ittiba’ dan mahabbahnya kepada Rasulullah SAW telah menghantarkannya kepada kedudukan yang tinggi di sisi Allah.

Ia mulanya budak berkulit hitam milik Ummayah bin Khalaf. Asal Ethiopia sekarang, sedang dizaman itu disebut Habasyah. Dan ada juga yang menyebutnya Abbisinia. Maka dari itu, ada juga yang menambahkan kata Al Habsyi di akhir namanya, sebagai pertanda dan penghormatan terhadap asal daerahnya. Seperti layaknya nama Salman Al Farisi dengan menambahkan kata Al Farisi yang berarti Persia, sehingga kurang lebih namanya itu berarti ‘Salman orang Parisi (Persia)’. Sedangkan Bilal bin Rabbah Al Habsyi berarti ‘Bilal anak Rabbah dari Habasyah’.

Ia dimerdekakan Abu Bakr Ash-Shiddiq setelah mendapat kabar bahwa ia disiksa oleh Ummayah bin Khalaf dengan cara di jemur tanpa baju dipanas terik. Sedang badannya dihimpit batu besar, lalu Bilal pun bertahan dengan menyeru ‘Ahad!’ berulang-ulang. 

---------------------------------------------------------------------

Pada suatu malam, jauh sepeninggal Rasulullah SAW yang wafat, Bilal bin Rabbah bermimpi bertemu Rasulullah SAW.

“Bilal, sudah lama kita berpisah. Aku rindu kepadamu,” demikian Rasulullah berkata didalam mimpi Bilal.

“Wahai Rasulullah, aku pun sudah teramat rindu bertemu dan mencium aroma tubuhmu,” kata Bilal.

Setelah itu, mimpi itu berakhir begitu saja. Bilal diliputi perasaan gulana setelah terbangun dari tidurnya. Sehingga dadanya sesak tak dapat menahan rindu kepada Rasulullah yang telah lama meninggalkannya didunia. Getaran itu benar-benar terasa dahsyat. Batin dan tubuhnya terguncang.

Keesokan harinya, Bilal menceritakan mimpi itu kepada salah seorang sahabat yang lainnya. Bagai angin, cerita tentang mimpi Bilal ini segera saja memenuhi ruang kosong kota Madinah. Seluruh penjurunya.

Mendadak kota Madinah mengharu biru. Bilal telah menghidupkan kenangan mereka akan Rasulullah. Rasanya baru kemarin saja Rasulullah pergi wafat meninggalkan mereka. dan seluruh penduduk Madinah sibuk dengan kenangan mereka masing-masing, akan Rasulullah. Dan bilal, sama seperti mereka. mengharu biru kembali mengenang Rasulullah.

Menjelang senja, penduduk kota Madinah sepakat untuk meminta Bilal mengumandangkan adzan kembali jika waktu maghrib tiba. Padahal Bilal telah cukup lama tidak mengumandangkan adzan lagi, sejak Rasulullah wafat. Seolah penduduk Madinah ingin menggenapkan kenangan tentang Rasulullah, dengan mendengarkan kumandang adzan dari pita suara Bilal.

Akhirnya, setelah diminta dengan memaksa, Bilal menerima permintaan mereka. dan beliau bersedia menjadi muadzin kali itu. 

Senja pun datang menghantar malam, dan Bilal mengumandangkan adzan.

Tatkala suara Bilal menggema seantero Madinah, seketika Madinah tersekat sejuta memori. Hampir seluruhnya menitikkan air mata.

“Marhaban ya Rasulullah,” bisik salah satu diantara mereka.

Mungkin, ada yang bertanya; Kenapa mereka begitu haru mendengar suara Bilal saat mengumandangkan adzan?

Alasannya sederhana; jika Bilal mengumandangkan adzan, itu artinya Rasulullah masih hidup bersama mereka. tiada orang yang dipercayakan Rasulullah untuk mengumandangkan adzan, kecuali Bilal, dan Abdullah Ibnu Ummi Maktum. Karena setelah Rasulullah wafat, Bilal tidak lagi mau mengumandangkan adzan untuk siapapun, kecuali hanya untuk Rasulullah.

Dan saat itu, dikala suara Bilal berkumandang kembali, itu artinya Rasulullah telah hadir kembali ditengah-tengah mereka.

---------------------------------------------------------------------

Sebenarnya ada sebuah kisah yeng membuat Bilal menolak mengumandangkan sepeninggal Rasulullah. Waktu itu, saat malaikat maut beberapa saat setelah menjemput Rasulullah SAW, Bilal mengumandangkan adzan.

Saat itu jenazah Rasulullah belum dimakamkan. Satu persatu lantunan kalimat adzan mengumandang sampai pada kalimat, Asyhadu anna Muhammadarrasulullah, tangis penduduk Madinah yang mengantar jenazah Rasulullah pecah. Bagai Guntur yang ingin membelah langit Madinah.

Setelah Rasulullah SAW dimakamkan, Abu Bakr meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan.
“Adzanlah, wahai Bilal,” perintah Abu Bakr.

Bilal pun berkata, “Jika engkau dulu membebaskan diriku demi kepentinganmu, aku akan mengumandangkan adzan. Tapi jika demi Allah kau dulu membebaskan aku, biarkan aku menentukan pilihanku.”

“Hanya demi Allah aku membebaskanmu, Bilal,” kata Abu Bakr.

“Maka biarkan aku memilih pilihanku. Sungguh, aku tak ingin mengumandangkan adzan untuk siapapun sepeninggal Rasulullah.” Bilal melanjutkan.

“kalau demikian, terserah apa kehendakmu.” Kata Abu Bakar.

---------------------------------------------------------------------

Ia lahir 43 tahun sebelum hijrah. Berpostur tinggi kurus, berkulit hitam, pelipisnya tipis, dan rambutnya lebat. Ibunya juga sahaya, milik seorang bernama Ummayah bin Khalaf dari Bani Jumuh. Ia menjadi budak sampai akhirnya mendengar ihwal Islam, menemui Rasulullah dan mengikrarkan diri masuk Islam.

Kisahnya yang paling spektakuler dan menentukan adalah saat disiksa oleh Ummayah bin Khalaf dengan cara membiarkannya dijemur di tengah gurun pasir selama beberapa hari. Perutnya ditindih dan diikat sebuah batu besar beserta lehernya dengan tali.

Selama berhari-hari disiksa, Bilal hanya memohon kepada Allah, dan lisannya hanya mengucapkan, “Ahad.. Ahad..”

Abu Bakr menyaksikan penderitaan itu, sehingga ia memerdekakan Bilal. Sedang mantan tuannya, Ummayah bin Khalaf, tewas ditangan Bilal sendiri saat perang Badar. Ditengah pasukan dan senjata yang berseliweran, ia berteriak memanggil nama Ummayah dengan lantang. Melihat gelagat Bilal yang seakan lupa kalau ia dulu adalah budaknya, Ummayah naik darah dan menemui Bilal. Duel, lalu Ummayah tewas.

---------------------------------------------------------------------
Setelah merdeka, Bilal mengabdikan dirinya untuk Allah dan Rasul-Nya. Kemana pun Rasulullah pergi, ia selalu berada disisinya. Karena itu sahabat yang lain pun sangat memuliakan Bilal. Sebagaimana mereka memuliakan Rasulullah.

Ketika Masjid Nabawi selesai dibangun, Rasulullah memerintahkan Bilal mengumandangkan adzan sebagai pertanda waktu shalat 5 waktu telah tiba. Karena ia memiliki suara yang merdu. Maka dari itu, ia mendapat julukan Muadzdzin ar-Rasul (Muadzin-nya Rasul). Ia menjadi muadzin pertama dalam sejarah Islam.

Ketika peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Makkah), Rasulullah berjalan didepan pasukan bersama Bilal. Saat memasuki Ka’bah, Rasulullah hanya ditemani 3 orang saja; Utsmah bin Thalhah, Usamah bin Zaid, dan Bilal bin Rabbah.

Tak lama kemudian, waktu zhuhur pun tiba. Ribuan orang berkumpul, termasuk kaum Qurays yang baru saja masuk Islam. Pada saat yang bersejarah itu, Rasulullah meminta Bilal agar naik keatap Ka’bah, dan mengumandangkan adzan. Ia beranjak dan melaksanakannya dengan senang hati.

Suara Bilal, adalah adzan pertama dalam Islam yang berkumandang di Kota Makkah.

Rabu, 20 Juni 2012

Kisah Dua Muadzin Nabi SAW :: ABDULLAH IBNU UMMI MAKTUM


Kisah Dua Muadzin Nabi SAW :: ABDULLAH IBNU UMMI MAKTUM
Sahabat Buta Kesayangan Nabi SAW

Apabila Bilal RA tidak ada, Rasulullah SAW menjadikannya sebagai pengganti Bilal untuk mengumandangkan adzan shalat lima waktu, karena suaranya yang merdu dan lembut. Tetapi bila Bilal ada, maka Bilal yang adzan, dan Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan iqamat. 

Ia bukanlah tokoh Makkah, ia hanya orang biasa. Bahkan namanya tak dikenal sebelum Islam datang. Matanya buta sejak lahir. Meski begitu, semangatnya untuk belajar sangat tinggi. Ia memanfaatkan pendengaran dan ingatannya sebaik-baik mungkin. Apa yang didengarnya tidak pernah dilupakannya lagi, sehingga ia mampu mengutarakan kembali apa yang sudah didengarnya.

Ia hidup untuk dirinya sendiri. Dan keistimewaannya adalah, tatkala Bilal RA tidak ada, maka ia yang mengumandangkan adzan.  Dan apabila pada bulan Ramadhan, Bilal RA adzan untuk mengingatkan orang terhadap waktu sahur, maka Ibnu Ummi Maktum adzan untuk menandakan waktu imsak.

Mengenai ini, Rasulullah SAW pernah bersabda; “Apabila Bilal adzan malam hari, kalian boleh makan dan minum hingga terdengar adzan Ibnu Ummi Maktum.”

Bukan hanya itu, Rasulullah juga mengangkatnya sebagai wakil apabila beliau keluar meninggalkan Madinah untuk berperang, diantaranya saat menyerang Kabilah Banu Sulaim dan Kabilah Bani Ghathafan. Ia menjadi wali kota Madinah selama perginya Rasulullah, menjadi imam bagi shalat berjamaah, dan khatib saat shalat Jum’at menggantikan Rasulullah SAW.

Berikut kisah-kisah keteladanannya yang patut menjadi contoh.
------------------------------------------------------------
Suatu shubuh, saat adzan dikumandangkan, Ibnu Ummi berangkat menuju mesjid meski matanya buta (sejak lahir). Di tengah jalan, ia tersandung batu hingga akhirnya mengeluarkan darah. Namun tekadnya sudah kuat untuk shalat berjamaah ke mesjid.

Waktu shubuh berikutnya, ia bertemu dengan seorang pemuda. Pemuda tersebut menolongnya dan menuntunnya untuk sampai ke mesjid agar tidak tersandung dan terjatuh seperti kemarin. Sejak saat itulah, pemuda yang sama pun berhari-hari kemudian selalu menuntunnya untuk pergi ke mesjid.

Ibnu Ummi Maktum kemudian bermaksud ingin membalas kebaikan pemuda tersebut, dengan ingin menanyakan namanya, dan mendo’akannya. Tetapi pemuda itu menolak. 

“Wahai saudaraku, siapakah gerangan nama mu? Izinkan aku mengetahuinya, agar aku bisa mendo’akanmu kepada Allah,” ujarnya. 

“Apa untungnya bagimu mengetahui namaku ? Dan aku tidak mau engkau do’akan,” jawab pemuda itu.

“Jika demikian, cukup sampai disini engkau membantuku. Aku tak mau engkau bantu lagi, karena engkau tak mau ku do’akan.” Kata Ibnu Ummi Maktum.

Akhirnya pemuda itu mengenalkan siapa dirinya sesungguhnya. 

“Wahai Ibnu Ummi Maktum, ketahuilah sesungguhnya aku adalah iblis,” ujarnya.

“Lalu mengapa engkau menolongku dan selalu mengantarku mesjid?” Bukankah engkau seharusnya mencegahku untuk datang ke mesjid?” tanya Ibnu Ummi Maktum lagi.

Pemuda yang sesungguhnya adalah Iblis itu pun berkata;

“Wahai Ibnu Ummi Maktum, masih ingatkah engkau beberapa hari yang lalu tatkala menuju mesjid, kau tersandung dan terjatuh? Aku hanya ingin itu tak terulang lagi. Sebab, karena engkau terjatuh, Allah telah mengampuni dosamu yang separuh. Aku takut kalau engkau terjatuh lagi, Allah menghapuskan dosamu yang separuhnya lagi. Sehingga terhapuslah seluruh dosamu. Maka, sia-sia lah aku menggodamu selama ini.” Kata Iblis.
------------------------------------------------------------
Allah SWT pun menghargainya dengan memasukkannya kedalam Al-Qur’an. Kisah ini terjadi kala Ibnu Ummi Maktum menemui Rasulullah untuk belajar dan meminta beliau membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepadanya. Namun, saat itu Rasulullah sedang sibuk menghadapi beberapa tokoh-tokoh Qurays, diantaranya Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal, dan Abbas bin Abdul Muthalib. Dengan harapan mereka mau masuk Islam, dan meringankan tugasnya serta memudahkan perkembangan Islam. Karena mereka lah yang selalu merintangi Islam dengan nyawa, harta, kedudukan, dan wibawanya. 

Ibnu Ummi Maktum mengulangi permintaannya itu berulang-ulang di depan Rasulullah, sehingga Rasulullah merasa terganggu, dengan sikapnya yang selalu memotong pembicaraannya dengan tokoh-tokoh Qurays tersebut. Karena itu, Rasulullah memalingkan mukanya dari Ibnu Ummi Maktum. 

Disinilah Allah SWT menegur Rasulullah SAW bahwa sikapnya yang demikian itu tidak pantas bagi orang yang memiliki akhlaq dan luhur yang tinggi.

Allah berfirman; “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau ia (ingin) mendapat pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya cukup, kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau ia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapat pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), kamu mengabaikannya.” (QS Abasa: 1-10).

Sejak saat itulah, sebagaimana dinukilkan dalam kitab at-Tafsir al-Munir, karya Syaikh Nawawi Al-Jawi, Sayyid ‘Ulama Al-Hijaz, Rasulullah sangat memuliakan Ibnu Ummi Maktum. Bila bertemu dengannya, beliau selalu berkata, “Selamat datang, wahai sahabat, yang aku ditegur Tuhanku karenanya. Apa engkau memerlukan sesuatu?”
 
Dalam riwayat yang lain, Rasulullah SAW bertemu dengannya, beliau suka berucap, “Selamat datang wahai orang yang dititipkan Tuhanku, untuk diperlakukan dengan baik.”
------------------------------------------------------------
Setelah perang Badar, Allah SWT menurunkan wahyu / ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan bahwa Allah mengangkat derajat kaum muslimin yang pergi berperang fi sabilillah. Dan mencela orang-orang yang tanpa uzur tapi menolak untuk berperang.

Ayat-ayat tersebut sangat berkesan di hati Ibnu Ummi Maktum. Tetapi sukar baginya untuk mendapatkan kemuliaan itu karena keterbatasan fisiknya, yakni mata yang buta. Lalu ia berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, jika saya tidak buta, tentu saya akan pergi berperang.”

Kemudian ia bermohon kepada Allah SWT dengan penuh kerendahan hati, semoga menurunkan pula ayat-ayat yang mengenai orang-orang dalam keadaan cacat (udzur) tetapi ingin juga berperang. Ia senantiasa berdo’a; “Ya Allah, turunkanlah wahyu mengenai orang-orang yang memiliki udzur seperti ku.”
Tidak berapa lama, do’anya dikabulkan Allah.

Zaid bin Tsabit yang menjadi juru tulis Rasulullah yang mendapat tugas menulis wahyu, menceritakan, “Aku duduk disamping Rasulullah SAW. Tiba-tiba beliau diam, sedang paha beliau terletak diatas pahaku. Aku belum pernah merasakan beban yang berat melebihi berat paha Rasulullah ketika itu.

Susudah beban berat yang menekan pahaku hilang, beliau bersabda, ‘Tulislah, hai Zaid!’

Lalu aku menulisnya, ‘Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak berperang) dengan pejuang-pejuang yang berjihad fi sabilillah…’ – QS An-Nisa: 95.

Ibnu Ummi Maktum berkata, ‘Ya Rasulullah, bagaimana dengan orang-orang yang tidak sanggup berjihad (berperang karena cacat)?’

Setelah pertanyaan Abdullah, Rasulullah SAW berdiam dan paha beliau menekan pahaku, dan aku merasa menanggung beban yang berat seperti tadi.

Setelah beban berat itu hilang, Rasulullah berkata, ‘Coba baca kembali yang telah engkau tulis!’
Aku membaca, ‘Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk(tidak turut berperang).’

Lalu kata beliau, ‘Tulis: kecuali mereka bagi orang-orang yang lemah, baik laki-laki maupun perempuan, ataupun anak-anak, yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan’.” – QS An-Nisa: 98.
Maka turunlah pengecualian yang diharapkan Ibnu Ummi Maktum tersebut.

Meski Allah telah memaafkan orang-orang yang punya udzur, tetapi ia tetap bertekad untuk ikut berperang fi sabilillah. Bahkan ia menentukan tugasnya sendiri di medan perang. Tekad itu timbul karena jiwa yang besar tak bisa dibilang besar jika belum mengerjakan suatu pekerjaan yang besar.

Ia berkata, “Letakkanlah saya diantara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memegangnya erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya tidak akan lari.”

Tahun ke 14 Hijriyyah, Khalifah Umar bin Khaththab memutuskan untuk masuk ke Persia dengan jalan perang. Meruntuhkan pemerintahan yang zhalim dan kafir dengan pemerintahan Islam yang demokratis dan bertauhid. Maka ia memerintahkan segenap gubernur dan pembesar dalam pemerintahannya, “Jangan ada seorang jua pun yang ketinggalan dari orang-orang yang bersenjata, orang yang mempunya kuda, atau yang berani, atau yang berfikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya kepada saya sesegera mungkin!”

Maka berkumpullah di Madinah dari segala penjuru, kaum muslimin yang memenuhi seruan Khalifah. Diantara mereka itu terdapat seorang buta, yakni Ibnu Ummi Maktum. Khalifah Umar bin Khaththab mengangkat Sa’ad bin Abi Waqash sebagai panglima perang. Dan memberikan instruksi-instruksi kepada Sa’ad.

Setelah pasukan itu sampai di Qadisiyah, Abdullah Ibnu Ummi Maktum mengenakan baju besi dan berpakaian lengkap dengan perlengkapan yang sempurna. Ia tampil sebagai pembawa bendera kaum muslimin. Dan berjanji senantiasa mengibarkannya, atau mati disamping bendera itu.

Pada hari ketiga perang di Qadisiyah, terjadi peperangan yang dahsyatnya belum mereka lihat sebelumnya. Kaum muslimin berhasil memenangkan peperangan itu dan runtuhlah kekuasaan negeri yang zhalim dan penyembah berhala tersebut.

Sedangkan Abdullah Ibnu Ummi Maktum, ditemukan tewas dengan darah wanginya, sambil memeluk bendera kaum Muslimin.

Tamerlane :: Biografi Singkat Si Timur Leng

Kekuasaannya membentang dari pantai Pasifik di timur hingga ke sungai Don, di barat. Ia bahkan disebut-sebut lebih unggul disbanding Alexander Agung dan Jenghis Khan.

Timur Leng (1336 – 1405) atau yang juga dijuluki “Tamerlane”, sang penakluk dunia. Selain Jenghis Khan, dialah satu-satunya orang yang sanggup menjelajahi daratan luas dari tepi pantai Pasifik hingga pinggir sungai Don. Prestasinya bahkan dianggap lebih baik daripada Jenghis Khan. Pada masanya, ia sukses menaklukkan dua raja besar: Sultan Turki, Bayazid Yildrim, dan Kaisar Mongol, Toktamish – cucu Jenghis Khan.

Dianggap lebih baik daripada Jenghis Khan, karena ia menghadapi pasukan di daratan Rusia yang kuat-kuat, sedangkan Kaisar Mongol itu tidak. Dan dianggap lebih unggul dibandingkan Iskandar Agung, karena lawannya lebih banyak dan lebih tangguh seperti Kekaisaran Mongol yang brutal.

Lebih kurang 550 tahun yang lalu ada seorang raja yang bercita-cita jadi penguasa dunia. Dan dia hampir mewujudkannya. Kata-kata itu di tulis oleh sejarawan terkemuka Inggris, Harold Lamb dalam bukunya yang berjudul, Tamerlane Sang Pengguncang Dunia.

Lahir tanggal 8 April 1336 M/25 Syakban 736 H, di Kota Hijau, Samarkand. Ia adalah putra Taragai, seorang kepala suku Barlas di Uzbekistan, Asia Tengah sekarang. Menurut beberapa sumber, ayahnya adalah keturunan Karachar Noyan, kerabat Jagatai, anak Jenghis Khan. Tapi ia sering kali disebut sebagai keturunan Jenghis Khan langsung.
Belakangan ia masuk Islam, berpaham Syiah dan ada juga yang bilang ia mengikuti tarekat Naqshabandiyah. Dimasa kecil ia tidak memiliki apa-apa kecuali seekor lembu. Tapi yang istimewa, bersama ayahandanya, ia menghabiskan waktu bersama orang-orang suci. Dan ayahnya pula yang mengajarkan ia Islam.

Suatu hari, ayahnya berkata, “Dunia ini tak lebih baik ketimbang sebuah jambangan bunga emas yang penuh berisi kalajengking dan Naga.” Sedari kecil wataknya sebagai orang besar sudah terlihat dengan tidak melakukan perbuatan bodoh dan tidak suka bergurau. Sebagai laki-laki ia memang kaku, tetapi ia cerdas dan berani. Ia menikahi seorang gadis cantik bernama Alji Khatun Agha.

Pada usianya 12 tahun, ia sudah ikut berbagai macam peperangan. Ketika ayahnya wafat, ia bergabung dengan pasukan Amir Qaghazan, sampai gubernur Tansoxiana itu meninggal. Satu waktu, pasukan Tughluq Temur Khan menyerbu, dan Timur Leng menghadangnya. Hingga mengundang simpati Tughluq, dan merekrutnya sebagai komandan pasukan. Namun ia akhirnya memberontak setelah Ilyas Khoja, anaknya Tughluq, sebagai gubernur Samarkand, sedangkan ia hanya pejabat biasa.

Tak lama kemudian ia bergabung dengan Amir Husain, cucu Qaghazan. Dengan kuda, ia menyerang Tughluq dan Ilyas Khoja. Keduanya tewas ditangan Timur Leng. Setelah berhasil memenangkan peperangan, pada tanggal 10 April 1370, para ulama mengangkat nya sebagai komandan bangsa Tartar.
“Sebagaimana hanya ada satu Tuhan di dunia ini, maka harus ada satu Raja saja di dunia ini.” Katanya usai dilantik.
Setelah menaklukkan Turki, Mongol, dan sebagain Eropa, ia pun berambisi untuk menaklukkan Cina. Karena dengan menaklukkan negeri ini, ia merasa telah menjadi penakluk dunia nomor satu. Karena pada saat itu kekaisaran Cina adalah yang terbesar di dunia.
Dengan membawa seperempat juta pasukan, ia berjalan pada musim dingin bersalju yang sangat berat untuk menuju Cina. Ketika sampai di Ortar, ia berhenti dan menghadapi musim dingin yang menggigit. Namun, pada bulan Maret 1405, ia meninggal dunia. Penyerbuan ke Cina urung, dan pasukannya berhasil dihabisi.

Saat ia wafat, terjadilah perebutan kekuasaan dikalangan anak-anaknya sendiri. Timur Leng sesungguhnya amat mencintai ilmu dan kebudayaan. Ia menyemarakkan kota asalnya, Samarkand, dengan mendirikan gedung-gedung, taman-taman, Mesjid Raya, istana, dan jalan-jalan yang lebar. Konon ia membangun mesjid raya hanya dalam waktu sebulan, sebagai pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan, dengan gaya arsitektur berkelas tinggi.

Pada masanya, Samarkand dan Tabriz menjadi pusat bisnis  dan perdagangan besar di dunia timur. Rute perdagangan antar benua yang selama berabad-abad terblokir, sekarang terbuka kembali. Ia mendirikan rumah-rumah sederhana untuk orang miskin dan cacat. Mengentaskan kemiskinan. Wilayah kekuasaannya di bersihkan dari perampok dan criminal.

Timur Leng orang yang suka berterus terang dan sederhana. Tidak menyukai sikap sombong, seperti yang di tunjukkan Sultan Turki, Bayazid Yildrim. Karena sikap sombong Sang Sultan lah, ia berang dan jadi berniat menaklukkan Turki dengan kekerasan.

Ia juga tidak suka memakai gelar kebesarannya. Pada surat-suratnya, ia menulis, “ Saya, Timur, Pengabdi Allah, menyatakan…”

Jumat, 01 Juni 2012

Seorang Sarjana dan Hantu


Chen adalah pemuda yang cerdas. Ia seorang sarjana tamatan universitas terkemuka di Cina, yang kepandaiannya tersohor sampai kemana-mana. Setelah tamat belajar, Chen memutuskan untuk mengembara, berkeliling negeri Cina, demi mencari pengalaman sekaligus mengajarkan ilmunya kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan. Telah banyak desa dan kota-kota yang terbantu olehnya dalam berbagai permasalan pelik.

Meskipun demikian, ia selalu menyembunyikan sosoknya sebagai pemuda biasa yang berpakaian sederhana. Walau namanya terkenal ke penjuru negeri, orang-orang tidaklah mengenal wajahnya kecuali yang sudah pernah bertemu.

Setelah sangat jauh mengembara, ia akhirnya singgah disebuah kampung yang ramai. Orang-orang di kampung itu ramah dan sebagian besar hidup berdagang. Selain terkenal dengan keramaiannya setiap musim panas, desa itu juga terkenal akan sebuah tempat penginapan.

Sebenarnya penginapan ini, sama seperti penginapan-penginapan lain pada umumnya. Memberikan kamar-kamar yang bersih, menyajikan teh untuk tamu-tamunya, kue-kue kering yang panas, tempat pemandian air panas, dan lain-lain sebagainya.

Namun, ada satu kamar yang sengaja dibiarkan kosong walau terus dirawat bersih. Dan, kamar inilah yang membuat penginapan ini terkenal. Dulunya, dikamar ini ada seorang wanita yang mati bunuh diri dengan menggantung dirinya sendiri mengenakan seutas tali. Tidak tahu mengapa ia bunuh diri seperti itu, namun, sejak kematiannya di kamar ini, di kamar tersebut sering muncul penampakan hantu yang menakut-nakuti orang yang sedang tidur.

Sosok hantunya adalah seorang wanita, yang wajahnya mirip dengan wanita yang tewas bunuh diri itu. pertama, akan muncul hawa dingin yang seolah-olah membekukan tengkuk. Lalu akan muncul asap putih yang bergulung-gulung dan menggumpal, kemudian akan membentuk sesosok wanita berbaju putih, dengan rambut awut-awutan menutupi sebagian wajahnya, dan wajahnya pucat pasi seperti mayat menakutkan.

Setelah itu, ia akan berjalan mendekati orang yang tidak beruntung tidur di kamar tersebut. Mencopot kepalanya, dan kepalanya akan terbang mengitari si korban. Telah banyak orang yang ditakut-takutinya. Dan telah banyak pula pemberani yang membuktikan kebenaran adanya hantu tersebut, dibuat pingsan karna sangat ketakutan.

Si hantu tidak hanya mencopot kepalanya, namun juga memamerkan kuku-kuku tangan dan taringnya yang tajam. Lidahnya juga bisa menjulur panjang. Suaranya melengking menyeramkan. Maka dari itu, meski tetap diurus, kamar tersebut tidak pernah ditempati lagi oleh para penginap.

Chen mengunjungi tempat ini, dan berniat tinggal disana untuk beberapa hari. Ia sudah mendengar tentang penginapan serta hantu yang menyeramkan itu. ia ingin membuktikan sendiri, apa benar ada hantu.

“Pak, saya ingin menginap di tempat ini.” Kata  Chen ramah pada pemilik penginapan yang sudah lumayan tua ini.

Pak Liu, pemilik penginapan, pun menjawab dengan suara yang lebih ramah. “Silahkan, kami masih memiliki banyak kamar kosong. Anda mau pilih yang mana, biar kami antarkan.”

Chen pun melihat-lihat sebentar, dan kemudian memutuskan. “Hmm.. saya ingin kamar yang di sebelah ini saja.” Tunjukkan pada sebuah pintu.

Pak Liu pun kaget, dan berkata ragu-ragu. “Nak, apa anda.. yakin?”

Chen pun bertanya balik. “Memangnya kenapa dengan kamar itu pak ?”

“Kamar itu sudah lama tidak terpakai, dan lagi pula di sana tempatnya kurang nyaman. Saya rasa kamu tahu maksud saya apa.” Pak Liu menjelaskan dengan nada kurang enak dan merasa bersalah.

“Oh.. tidak mengapa Pak. Saya mengerti maksud anda, ini tentang hantu itu, kan ?” Chen menjawab dengan nada riang untuk mencairkan suasana. Tetapi wajah Pak Liu, pemilik penginapan masih agak lain.

“Sudah lah, mari kita lihat saja. Jika saya merasa kurang nyaman, Bapak boleh mencarikan kamar lain untuk saya.” Lanjutnya kemudian.

Pak Liu pun mengangguk, dan mereka bersama-sama menuju kamar tersebut. Setelah melihat-lihat kamar itu, Chen merasa nyaman. Kamarnya cukup sejuk, dan pemandangan di luar jendela menghadap sebuah gunung, dan taman bunga. Ia memutuskan untuk tetap dikamar ini saja.

“Saya tidak tahu maksud kamu apa, tetapi kalau hanya untuk uji nyali, sebaiknya jangan. Pria yang tampangnya lebih sangar dan tubuhnya yang lebih besar dari mu, sudah banyak yang ketakutan disini.” Pak Liu kemudian menjelaskan.

Chen mengerti kekhawatiran Pak Liu, tetapi ia kemudian berkata; “Setidaknya sampai sekarang, hantu itu belum pernah membunuh orang, kan ?”

Pak Liu paham dan tidak bisa memaksa. Ia berpesan, jika Chen butuh sesuatu, ia bisa dipanggil kapan saja. Setelah mengucapkan terima kasih, dan Pak Liu keluar dari kamar, Chen membereskan barang bawaannya dan lekas beristirahat.

Malam itu, rembulan penuh bersinar terang. Chen sengaja membuka lebar-lebar jendela kamarnya agar angin bisa masuk kedalam. Kamar ini benar-benar nyaman dan sejuk. Ia bersantai sambil membaca sebuah buku.

Menjelang tengah malam, matanya mulai mengantuk. Namun, saat hendak memadamkan penerangan, ia merasakan ada yang lain. Udara tiba-tiba jadi lebih dingin. Tengkuknya seperti beku. Dan perlahan-lahan, asap tipis memasuki kamarnya termpat ia berdiam tadi. Chen tahu ini tanda-tanda bahwa hantu itu akan muncul, ia pun meningkatkan kewaspadaannya, dan memasang tajam pandangan matanya.

Tak lama kemudian, asap tadi menggumpal dan membentuk sesosok tubuh. Mirip perempuan,  berbaju putih, dan berambut awut-awutan. “Ini dia yang ku tunggu-tunggu!” gumam Chen dalam hati sambil tersenyum.

Dan, benar saja! Sesosok hantu yang sudah maujud itu memang menyeramkan. Chen sempat kaget, namun ia berhasil mengendalikan dirinya. Si hantu pun lekas melengking, mengeluarkan suara yang menyeramkan.

“Hei, setan bodoh! Kau kira Cuma suaramu saja yang menyeramkan!? Aku juga bisa melengking, bahkan lengkingan monyet di hutan sana lebih seram!” Bentak Chen tiba-tiba.

Si hantu seakan terperanjat dan kaget. Baru kali ini ada yang berani membentaknya seperti itu. ia pun meningkatkan serangan menakut-nakutinya. Ia memamerkan taring dan kuku tangannya yang panjang dan tajam.

Chen menghardik lagi; “Apa nya yang menakutkan dari kuku-kuku tangan dan gigi taring mu? Sepanjang dan setajam apapun, kuku tetaplah kuku! Harimau dan beruang juga punya yang seperti itu, tetapi mereka bisa di tangkap dan dikuliti! Kamu mau seperti itu juga!?”

Si hantu kembali terperanjat. Di julurkannya lidah yang panjang itu mendekati Chen. Tidak sampai menyentuh hanya memainkan lidahnya saja.

“Kau ini benar-benar memalukan. Anak-anak kecil di desa ini juga suka menjulurkan lidahnya sewaktu bermain. Kau ini kulihat sudah dewasa, tetapi malah bertingkah seperti anak-anak dengan menjulurkan lidah seperti itu. apanya yang seram!? Kau julurkan sepanjang apapun, lidah mu tetaplah lidah! Apa kau mau lidah mu ku gunting? Menjulurkan lidah itu tabiat anak kurang ajar, dan seperti anjing, tahu!” Chen menghardik lebih keras sambil mengacungkan gunting.

Si hantu mulai bingung. Di tariknya lidahnya agar pendek kembali. Kemudian ia menggerai rambutnya yang kusut itu, dan mengacak-acaknya lebih parah dan mengibas-ngibaskannya. Tampilannya sungguh menyeramkan. Tapi Chen tidak takut.

“Nah, sekarang seperti orang gila! Sudah berapa lama kau tidak mencuci rambut? Pasti bau dan banyak kutunya, ya? Penampilan yang begitu apa nya yang bikin seram!? Orang gila di jalanan pun bisa lebih parah dari pada ini! Kau gerai sepanjang apapun, rambut tetaplah rambut!”

Dikata-katai demikian, si Hantu mulai putus asa. Ia mengeluarkan cara terakhir yang belum pernah gagal sebelumnya, yakni mencopot kepalanya, dan kepala tersebut terbang mengitari korban. Sesaat, kepalanya sudah copot dan terbang mengitari Chen. Chen kemudian menggeser tempat duduknya, mengambil tongkat pemukul yang terbuat dari rotan dari dalam tas nya.

“Kau ini sungguh memalukan. Kau tanggalkan kepala seperti itu pun, itu tetaplah kepala. Aku juga punya! Apanya yang menakutkan?” Sahutnya lantang.

Tiba-tiba Chen, mengayunkan pemukul rotan tersebut. Memburu kepala hantu yang terbang mengitarinya. Di hajarnya berkali-kali kepala hantu tersebut. Seperti menghajar nyamuk-nyamuk nakal. Tak ada pilihan lain, akhirnya kepala si hantu kembali ke tubuhnya.

“Sekarang, kau masih berani? Kuku mu, tetaplah kuku. Taringmu tetaplah taring. Kepalamu, tetaplah kepala. Lidahmu tetaplah lidah. Mana bagian yang menakutkannya? Jika kau berani kembali ke sini dan mengganggu orang-orang lagi, aku akan menghajarmu seperti tadi! Bahkan lebih keras!” Chen meninggikan suaranya.

Kepala si hantu yang sudah terpaut kembali dengan tubuhnya pun, kemudian perlahan menjadi asap. Lalu menipis, dan lenyap dari kamar. Chen mengucap syukur. Ia tak menyangka akan berjalan semudah ini. Sebentar, ia tertawa kecil mengingat peristiwa dan apa yang ia lakukan tadi pada si hantu.

Setelah tafakur sejenak, Chen pun merebahkan dirinya untuk beristirahat. Ia tak sabar melihat reaksi Pak Liu. Dan malam itu Chen tidur nyenyak sekali.

Esok paginya, Pak Liu terkejut melihat Chen baik-baik saja. Chen menangkap ke keterkejutan itu. namun ia menahan diri untuk tidak menceritakan peristiwa tadi malam. Ia beberapa malam lagi masih ingin mencoba tidur di sana. Apakah si hantu masih berani muncul atau tidak.

Pada malam kedua, ketiga, dan seterusnya, ternyata si hantu tidak muncul sama sekali. Chen puas, telah berhasil mengusir si hantu nakal. Dan genaplah ia seminggu berada di sana. Pak Liu pun juga tak tahan ingin bertanya.

“Sudah seminggu anda di sini, dan tidur di kamar itu. setiap paginya, saya lihat anda baik-baik saja. Padahal hanya satu malam saja, banyak orang yang pucat pasi dan hampir jadi gila jika tidur di kamar itu sebelumnya. Apa sebenarnya yang terjadi?” Tanyanya.

Chen pun menjelaskan peristiwa yang ia alami seminggu lalu. Ceritanya benar-benar detail. Pak Liu kagum atas keberanian Chen.

“Ini bukan masalah berani atau tidak, Pak Liu. Ini Cuma mengenai bagaimana kita mengendalikan diri dan memandang sebuah keburukan dengan pandangan sederhana tanpa tercampur emosi. Anda bisa saja seperti saya. Namun, anda cenderung memandang terror si hantu dengan sudut pandang yang menakutkan.” Chen merendah.

Sejak saat itu, kamar yang pernah ditakuti karena hantunya tersebut, dibuka kembali. Pak Liu membuktikan sendiri dengan tidur beberapa malam di kamar tersebut. Dan tidak pernah ada kejadian si hantu datang, apalagi mencopot kepalanya.